Pola Asuh Anak Pemalu

Posted on 07/07/2011

0


Pola Asuh Anak Minder

Pola Asuh Anak Pemalu

Pola Asuh Anak Pemalu

Seringkali orang menyangka sifat pemalu sama saja dengan sifat minder. Padahal, seperti yang dikatakan Karmila Warhana, P.si dari Empati yang saya kutip dari Tabloid Nakita, tidak demikian, meski anak pemalu jika mendapatkan lingkungan dan pola asuh yang tidak tepat, ia akan berubah menjadi anak minder. Nantinya lingkungan itu akan merongrong kepercayaan dirinya. Contoh, anak seringkali mendengar perkataan orangtuanya “Aduh, diajarkan berkali-kali kok gak ngerti-ngerti sih!” perkataan ini akan mempengaruhi penilaian diri anak kepada dirinya sendiri (konsep diri) menjadi negative. Akibatnya, anak akan merasa dirinya benar-benar bodoh, selanjutnya ia akan menilai harga dirinya rendah. Alhasil, rasa percaya dirinya hancur dan rasa minder mulai muncul.

Tentunya proses menjadi anak mandiri tidak berlangsung secara instant. Melainkan sudah dimulai secara pelahan sejak usia sebelumnya. Cirinya anak minder cenderung berpikir buruk dan menilai rendah tentang dirinya. Ada kecenderungan anak menganggap bodoh, tidak berguna dan label negatif lainnya. Apabila dihadapkan pada masalah atau tantangan, dia akan menganggapnya sebagai sumber utama kecemasan dan frustasi, karena dia mengalami kesulitan dalam menemukan solusi atas suatu masalah.

Untuk menangani anak minder, orang tua harus melatih mengembalikan sekaligus mengembangkan kepercayaan diri anak. Ketahuilah, percaya diri bukanlah bawaan, melainkan nilai yang tumbuh bertahun-tahun sejalan dengan pengalaman hidup, hingga anak kelak akan memandang positif dan cenderung memiliki harapan realistis terhadap dirinya. Percaya diri merupakan kumpulan kepercayaan atau perasaan yang dimiliki anak tentang dirinya, yang mempengaruhi motivasi, perilaku, sikap dan penyesuaian emosinya. Jadi, agar anak percaya diri diperlukan pola asuh yang baik serta latihan yang konsisten dan berkesinambungan.

Saran Karmila, buatlah lingkungan yang nyaman dan aman dirumah. Berikan

Malu ya?

Malu ya?

kasih sayang yang cukup pada anak. Beri pula pujian terhadap perilaku positif maupun perkembangan perilaku atau keterampilan anak. Hargai setiap usaha dan penyelesaian masalah atau pekerjaan yang telah anak lakukan. Jangan hanya melihat hasil, tapi lihat juga bagaimana proses anak mendapatkan hal itu. Berikan toleransi bila anak mengalami kegagalan atau kesalahan kecil. Biarkan ia mencobanya kembali, hingga akhirnya membentuk ide atas kemampuan diri sendiri. Perbanyak kata-kata positif dan sedapat mungkin hindari kata-kata negatif, apalagi label yang dapat menjatuhkan harga diri anak. Jangan sekali-kali merendahkan kemampuan anak. Orang tua harus hati-hati dengan perbuatan dan perkataannya, karena anak akan mengingat, meniru dan juga bercermin pada diri orang tuanya.

Orangtua juga sebaiknya melakukan interaksi dan komunikasi yang baik pada anaknya. Keterlibatan orangtua dan pola asuh merupakan kunci yang dapat membantu anak membangun persepsi diri yang sehat. Melakukan sesuatu yang berarti dengan perasaan dicintai. Kedua aspek inilah yang harus dihadirkan pada diri anak agar tumbuh rasa percaya diri.

Tips meminimalkan sifat pemalu anak :

  1. Ajari anak untuk bersikap, perilaku, maupun bertata karma dalam beragam situasi tertentu. Bagaimana ia belajar percakapan dengan menyapa dulu temannya, semisal menanyakan kabar, memuji penampilan temannya hari itu, atau membagi makanan kecil yang dibawanya. Setelah komunikasi pertama berjalan lancer, anak bisa belajar mengangkat topik yang sedang hangat atau menjadi kesukaan anak.
  2. Beri anak pelatihan agar terampil bicara didepan orang banyak atau umum, dimulai dengan berbicara di depan cermin, lalu didepan orang tua dan saudaranya di rumah, begitu seterusnya.
  3. Ajarkan juga agar ia dapat memimpin dengan memberikannya tugas dan tanggung jawab, seperti memimpin doa di kelas.
  4. Doronglah ia agar berani dan terbuka saat mengungkapkan unek-unek atau kesalahannya.
  5. Orang tua memberikan contoh, bagaimana menjadi pribadi yang percaya diri dan berani, sehingga anak bisa menirunya. Saat berada di restoran, lalu mendapatkan mekanan yang tidak sesuai pesanan, misalnya, orang tua berani memanggil pramusaji untuk menggantinya.
  6. Ciptakan lingkungan yang aman bagi anak, sehingga anak tidak merasa cemas atau takut dipersalahkan, ditertawakan, dimarahi dll.
  7. Bantu anak membuat dirinya merasa nyaman dengan perasaannya dengan berbagai keterampilan.

Bila orangtua merasa sudah maksimal menerapkan pola asuh anak pemalu namun tetap tidak dapat mengubah sifat pemalu anak, tak ada salahnya meminta bantuan ahli. Dengan begitu, potensi dan kemampuan sosialisasi anak tidak terganggu gara-gara rasa malunya yang berlebihan.

Kait kata :

anak pemalu, anak minder, pola asuh anak, pola asuh,

Posted in: Psikologi Anak