Komunikasi Orang tua dan Anak

Posted on 17/06/2011

7


Dalam ilmu komunikasi, komunikasi adalah berbagi pesan antara dua atau lebih banyak orang. Mereka saling memberi informasi dalam kedudukan yang sama atau setara. Begitupun ketika berkomunikasi dengan anak, sangat penting artinya mendudukkan mereka selayaknya orang dewasa. Mereka butuh informasi dari orang tua dan orang tuapun butuh informasi dari mereka walaupun dengan banyak pengecualian.

Komunikasi Orang tua dan Anak

Komunikasi Orang tua dan Anak

Menurut Lynas Waun peneliti dari University of Arizona ada beberapa hal yang perlu dijaga dalam berkomunikasi orang tua dan anak, yakni :

  1. Mempertahankan kontak mata dengan anak,
  2. Mengajukan pertanyaan yang dirasa mereka sanggup mengerti,
  3. Benar-benar mengarahkan perhatian kepadanya,
  4. Berkata dengan lembut dan tenang, dan
  5. Menjaga dan memerhatikan perasaan anak.

Seorang anak mampu berfikir dengan cepat bahwa orang tua tidak sungguh-sungguh mendengarkan ketika pertanyaannya hanya dijawab “Hm…” atau “Oke”. Lebih parah lagi ketika orang tua sering memberitahu tidak punya waktu luang untuk berbicara. Rangkaian kejadian seperti ini akan menciptakan situasi negatif yang dapat menyebabkan seorang anak berfikir tidak ada gunanya berkomunikasi dengan orang tua. Akibatnya, mereka akan mengalihkan komunikasinya dengan dunia luar yang bisa jadi orang tua tidak akan mampu mengontrol kegiatannya setelah itu.

Menurut Lynas Waun kembali, komunikasi komunikasi negatif terhadap anak seperti itu seringkali terjadi ketika :

  1. Orang tua mengabaikan perasaan anak
  2. Orang tua meletakkan kepentingan anak dalam rangka mengejar kepentingannya sendiri
  3. Orang tua minim perhatian.
  4. Orang tua mengkritik, menghakimi atau menyalahkan anak-anaknya.

Dalam berkomunikasi, komunikasi orang tua tersebut juga harus mempertahankan kehormatan seorang anak. Anak-anak membutuhkan bantuan dalam menempatkan perasaannya dalam banyak hal. Orang tua dapat membantunya dengan mendekap dan mengatakan, “Arsya, kamu menangis karena lututmu terluka?” ketika Arsya terjatuh dari sepeda sebagai situasi. Orang tua perlu untuk menghindari komunikasi negatif, dengan mengatakan “anak laki-laki besar kok nangis?” kalimat ini memberikan pesan bahwa perasaan anak laki laki tidak boleh dibicarakan atau diungkapkan dengan orang lain. Contoh lain adalah ketika si anak mengompol, orang tua sering marah jika terjadi hal itu dan cenderung mengejeknya “Udah gede kok masih ngompol”. Alhasil mereka akan menjadi pribadi yang tertutup dari diri orang tua.

Sebagai contoh lain saya sertakan kalimat negatif yang sering kali meluncur tanpa disadari orang tua yang saya petik dari mommiesdaily.com :

  1. Memerintah, “Jangan lari-larian dong!”
  2. Menyalahkan, “Tuh kan jatuh, lagian nggak bisa diem banget sih”
  3. Meremehkan, “Masa gitu saja nangis?”
  4. Membandingkan, “Tuh lihat si A nggak nangis loh!”
  5. Mencap/ memberikan label, “Kamu nakal sih”
  6. Mengancam, “Nangisnya sudah dong, nanti ibu panggilin dokter nih biar disuntik”
  7. Menasehati, “Makanya omongan orangtua itu didengerin”
  8. Menghibur dan membohongi, “Nggak apa-apa kok, besok juga sembuh lukanya”
  9. Mengkritik, “Kamu pake sendalnya yang itu sih, kan licin pantesan saja jatuh”
  10. Menyindir, “Ini akibatnya kalo nggak dengerin orangtua, kualat kan”
  11. Menganalisa, “Gimana nanti kalo udah gede coba, pasti susah dibilangin”

Anak dan Keluarga
Anak usia 4-8, perlu ambil bagian dalam diskusi keluarga. Mereka perlu belajar bahwa mereka adalah bagian penting dari anggota keluarga. Ketika mereka menyadari sudut pandang tersebut, mereka akan merasa diterima dan dihargai, hal seperti ini akan memperkuat psikologis anak dan sekaligus akan memperkuat ikatan keluarga.

Dalam kehidupan keluarga, anak-anak akan meniru tindak tanduk orang tuanya. Oleh karena itu orang tua harus bisa memberi contoh yang baik. Kemarahan orang tua tidak perlu ditunjukkan kepada anak, mengekpresikan kemarahan dengan berbicara keras apalagi dengan membanting gelas akan menyebabkan anak meniru perilaku tersebut. Ia akan membanting dan berteriak-teriak ketika keinginannya tidak tercapai. Ketika orang tua berbicara dengan tenang, lembut dalam mengungkapkan perasaannya akan memicu seorang anak untuk merubah perilakunya sesuai dengan apa yang dilihatnya.

Bagaimana cara menciptakan lingkungan yang positif untuk berkomunikasi dengan anak?

Menciptakan suasana yang bersahabat untuk berbicara tidak terjadi secara kebetulan. Orang tua perlu meluangkah perhatian kepada anak-anaknya sebagai bagian dari interaksi sehari-hari.

  1. Sapalah anak-anak dengan nama mereka.
  2. Rangsang mereka untuk bercerita pengalamannya hari ini.
  3. Berbicaralah dengan sopan kepada mereka.
  4. Dengarkan dengan sepenuh hati ketika mereka bercerita.
  5. Tatap mata mereka dengan lembut dan penuh kasih sayang

Meluangkan waktu untuk berbicara, berbagi suka, berbagi duka dengan diliputi perasaan saling menerima akan membangun sebuah hubungan keluarga yang harmonis serta dapat menciptakan komunikasi orang tua dan anak menjadi positif dan lebih baik.

Demikian, apabila Anda memiliki cara lain komunikasi pada anak, bisa disampaikan di kolom komentar agar pembaca yang kesasar di blog ini bisa mendapatkan input tambahan dari Anda. Semoga bermanfaat.

Kait kata :

Komunikasi orang tau, komunikasi anak, ilmu komunikasi, komunikasi adalah, memberi informasi, butuh informasi, lynas waun, university of arizona, kontak mata, perhatian, berkata lembut dan tenang, situasi negatif, dunia luar, mengontrol kegiatan, perasaan anak, kepentingan anak, mengkritik, menghakimi, menyalahkan, menjaga kehormatan, kehormatan anak, mommiesdaily.com, menyindir, menganalisa, menghibur, menasehati, mengancam, meremehkan, membandingkan, anak dan keluarga, anak usia 4-8 tahun, diskusi keluarga, anggota keluarga, kehidupan keluarga, kemarahan orang tua, anak meniru perilaku, membanting, berteriak-teriak, membangun sebuah hubungan,

Posted in: Psikologi Anak